Kontributor
Renndy Putra Atriadi, S.Kom
Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas (Unand) mewakili Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan Aspikom International Communication Conference (AICCON) 2026. Konferensi internasional bergengsi ini berlangsung di Hotel ZHM Premier Padang pada Rabu (22/7) dengan menghadirkan empat keynote speaker dari empat negara.
Keempat pembicara utama yang hadir memaparkan pandangan ilmiahnya adalah Prof. Elske Van De Fliert dari The University of Queensland (Australia), Prof. Madya Dr. Nik Norma Nik Hasan dari Universiti Sains Malaysia, Prof. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm dari Universitas Brawijaya (Indonesia), serta Prof. Merlyna Lim dari Carleton University, Ottawa (Kanada).
Salah satu agenda krusial dalam kegiatan ini adalah peluncuran buku Panduan Kurikulum dan Standarisasi Laboratorium Aspikom yang diresmikan langsung oleh Presiden Aspikom, Prof. Anang Sujoko. Peluncuran buku ini ditujukan untuk menjawab tingginya kebutuhan perguruan tinggi dalam menyusun kurikulum ilmu komunikasi yang mutakhir, dengan mengacu pada Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 serta penetapan standarisasi laboratorium.
“Buku panduan ini menceritakan bagaimana kami peduli untuk selalu mengembangkan kurikulum. Dan Anda dapat mengaksesnya secara gratis dengan memindai QR code yang tersedia,” ujar Prof. Anang Sujoko di sela-sela kegiatan.
Penyelenggaraan AICCON 2026 mendapat apresiasi penuh dari pimpinan fakultas dan pemerintah daerah. Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Unand, Dr. Elva Ronaning Roem, S.Sos., M.Si., yang hadir mewakili Dekan FISIP Unand, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas terselenggaranya konferensi internasional serta peluncuran buku panduan tersebut. Sementara itu, Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, S.Pd., yang hadir mewakili Wali Kota Fadly Amran, menegaskan pentingnya penguasaan ilmu komunikasi dalam perkembangan zaman.
“Orang akan menguasai dunia ketika dia menguasai komunikasi,” tegas Maigus Nasir. Ia juga berharap agenda AICCON 2026 dapat menjadi sarana promosi bagi Kota Padang sebagai destinasi wisata dan kota gastronomi.
Sesi keynote mengupas secara mendalam tentang dinamika komunikasi, keberlanjutan, dan komunitas. Prof. Madya Dr. Nik Norma Nik Hasan menyoroti dominasi narasi ekonomi pemerintah yang kerap mengabaikan isu lingkungan serta ketidakpercayaan publik pada proyek skala besar. Prof. Elske Van De Fliert menekankan pentingnya perubahan sosial berbasis pemberdayaan internal (power within) melalui peningkatan literasi dan kemampuan berpikir kritis. Di sisi lain, Prof. Merlyna Lim memperkenalkan konsep simpoiesis komunikatif, yang menegaskan bahwa keberlanjutan komunitas bertumpu pada penciptaan bersama, memori kolektif, dan kepedulian antaranggota, bukan sekadar relasi teknologis yang diatur algoritma.
Menutup sesi utama, Prof. Anang Sujoko menyampaikan kritik terhadap pola komunikasi pembangunan di Indonesia yang rentan menyalahgunakan akselerasi digital sebagai instrumen ofensif untuk meredam suara kritis masyarakat. “Komunikasi bukan sekadar tentang menyampaikan pesan. Ini tentang menciptakan atmosfer komunikatif yang partisipatif,” ungkapnya. Sebagai solusi, ia memperkenalkan model Pentahelix Political Communication yang melibatkan pemerintah, pengusaha, LSM/NGO, media, dan akademisi untuk mendorong kebijakan berbasis kearifan lokal.
Rangkaian AICCON 2026 diakhiri dengan sesi paralel, tempat para peserta mempresentasikan paper hasil penelitian dan pengabdian masyarakat untuk publikasi jurnal ilmiah. Kegiatan ini diharapkan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi pengembangan ilmu komunikasi dan masyarakat luas.