Survei Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Sumbar

Hasil survei yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat COVID-19 FISIP Unand kontribusi dengan Balitang Provinsi Sumbar menunjukkan adanya dilema yang melibatkan masyarakat kita di tengah-tengah sosial yang berskala besar di Sumbar. Terlebih di salah satu sisi masyarakat kita sudah mengerti dan paham tentang kebijakan PSBB di Sumatera Barat, namun karena pertimbangan ekonomi dan pekerjaan masih

Ada sekitar 20% anggota yang harus tetap beraktivitas seperti biasa. Sebelum PSBB ada 29% warga negara yang memiliki patuh dan disiplin sosial dengan tetap di rumah. Dengan diterapkan PSBB jumlah itu meningkat menjadi 47%. Sebelum PSBB ada 36% warga negara yang kadang-kadang masih suka bepergian keluar rumah, namun setelah menggunakan jumlah PSBB alhamdulillah semakin meningkat menjadi 25%. Namun yang belum banyak berubah adalah orang yang tetap ramah mencari nafkah yang sebelumnya ada 27% dengan diterapkan PSBB hanya berkurang menjadi 25%. Alasan mereka sulit dijalankan PSBBis khusus tetap di rumah karena alasan ekonomi. Lagi-lagi menurut survei hadil Tim Tanggap COVID FISIP Unand setuju dengan Balitbang Prov. Sumbar,saat ini 52% dari 1010 responden setuju telah terjadi penurunan pendapatan mereka dengan angka yang bervariasi. 32,7% mengatakan terjadi penurunan lebih dari 50%, 30% mengatakan antara 25% -50%. UMKM, Pekerja harian lepas, para pegawai yang membayar mereka setiap minggu, para pengemudi angkutan umum, pengendara ojeg dan sebagainya. Sementara itu disisi lain telah terjadi Peningkatan masyarakat dengan angka yang juga bervariasi. 14,7% mengatakan lebih dari 50%. Diperkirakan sebanyak 35,8% warga yang mengeluarkannya meningkat 25% - 50%. Hal ini terjadi karena banyak warga yang pindah cara belanja online. Jadi peningkatan pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan bahan makanan pokok.7% mengatakan terjadi penurunan lebih dari 50%, 30% mengatakan antara 25% -50%. UMKM, Pekerja harian lepas, para pegawai yang membayar mereka setiap minggu, para pengemudi angkutan umum, pengendara ojeg dan sebagainya. Sementara itu disisi lain telah terjadi Peningkatan masyarakat dengan angka yang juga bervariasi. 14,7% mengatakan lebih dari 50%. Diperkirakan sebanyak 35,8% warga yang mengeluarkannya meningkat 25% - 50%. Hal ini terjadi karena banyak warga yang pindah cara belanja online. Jadi peningkatan pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan bahan makanan pokok. 7% mengatakan terjadi penurunan lebih dari 50%, 30% mengatakan antara 25% -50%.UMKM, Pekerja harian lepas, para pembantu yang meminta lebih tinggi, para pengemudi angkutan umum, pengendara ojeg dan sebagainya. Sementara itu disisi lain telah terjadi Peningkatan masyarakat dengan angka yang juga bervariasi. 14,7% mengatakan lebih dari 50%. Diperkirakan sebanyak 35,8% warga yang mengeluarkannya meningkat 25% - 50%. Hal ini terjadi karena banyak warga yang pindah cara belanja online. Jadi peningkatan pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan bahan makanan pokok. UMKM, Pekerja harian lepas, para pembantu yang meminta lebih tinggi, para pengemudi angkutan umum, pengendara ojeg dan sebagainya. Sementara itu disisi lain telah terjadi Peningkatan masyarakat dengan angka yang juga bervariasi.14,7% mengatakan lebih dari 50%. Diperkirakan sebanyak 35,8% warga yang mengeluarkannya meningkat 25% - 50%. Hal ini terjadi karena banyak warga yang pindah cara belanja online. Jadi peningkatan pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan bahan makanan pokok. UMKM, Pekerja harian lepas, para pegawai yang membayar mereka setiap minggu, para pengemudi angkutan umum, pengendara ojeg dan sebagainya. Sementara itu disisi lain telah terjadi Peningkatan masyarakat dengan angka yang juga bervariasi. 14,7% mengatakan lebih dari 50%. Diperkirakan sebanyak 35,8% warga yang mengeluarkannya meningkat 25% - 50%. Hal ini terjadi karena banyak warga yang pindah cara belanja online.Jadi peningkatan pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan bahan makanan pokok. Sementara itu disisi lain telah terjadi Peningkatan masyarakat dengan angka yang juga bervariasi. 14,7% mengatakan lebih dari 50%. Diperkirakan sebanyak 35,8% warga yang mengeluarkannya meningkat 25% - 50%. Hal ini terjadi karena banyak warga yang pindah cara belanja online. Jadi peningkatan pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan bahan makanan pokok. Sementara itu disisi lain telah terjadi Peningkatan masyarakat dengan angka yang juga bervariasi. 14,7% mengatakan lebih dari 50%. Diperkirakan sebanyak 35,8% warga yang mengeluarkannya meningkat 25% - 50%.Hal ini terjadi karena banyak warga yang pindah cara belanja online. Jadi peningkatan pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan bahan makanan pokok.
Setelah dilakukan kebijakan, PSBB di Sumbar adalah 41% warga yang mengeluhkan tentang keuangan dan bahan kebutuhan pokok dan perlu bantuan dari pemerintah dan para dermawan. Mirisnya 63% dari mereka mengatakan belum mendapatkan bantuan yang diharapkan. Dari hasil survei terlihat bahwa 57,1% responden mengatakan bahwa di lingkungan mereka belum ada pendistribusian bantuan dari pemerintah kepada yang membutuhkan.Berdasarkan fakta Tim Tanggap COVID FISIP Unand menghimbau para pihak terkait agar segera melakukan proses pendistribusian bantuan kebutuhan pokok negara yang terdepan ini jika kita ingin menyukseskan pelaksanakan PSSB minuman 2 ini. Jika tidak dapat dipastikan meningkatkan kebijakan PSBB jilid 2 ini tidak jauh berbeda dengan PSBB Jilid 1.
Yang perlu terus menjadi perhatian. Semua pihak adalah peluang perantau yang akan mudik. Dari hasil survei, ini terlihat hanya 57,4% perantau yang telah memastikan tidak akan pulang kampung lebaran ini. Berharap ada 42,6% potensi perantau akan tetap bertahan untuk pulang. Kita harus tetap percaya saudara-saudara kita di Rantau untuk menahan diri sementara waktu ini untuk tidak mudik dulu sampai benar-benar pulih.