Rasional
April 7th, 2009
Berakhirnya pemerintahan Presiden George W. Bush digantikan oleh Pemerintahan Presiden Barrack Hussein Obama banyak disebut menyembulkan harapan akan terjadinya suatu perubahan besar pada politik global Amerika Serikat.
Obama secara konsisten dalam masa kampanyenya memberi sinyal akan adanya perubahan dalam pendekatan politik luar negeri Amerika Serikat. Pragmatisme yang diperkuat oleh tradisi Partai Demokrat Amerika Serikat diharapkan melempangkan jalan bagi Amerika Serikat untuk meraih simpati publik domestik dan dukungan dari dunia Internasional lewat pendekatan yang lebih menghormati prinsip diplomasi meninggalkan keangkuhan kekuasaan unilateral Amerika Serikat, menekankan pentingnya perdamaian ketimbang penyelesaian bersenjata. Obama juga menginginkan satu konstruksi hubungan yang lebih baik antara Barat dengan dunia Islam.
Dalam masa 100 hari kepemimpinannya, Obama memang telah mulai merealisasikan beberapa janji kampanyenya untuk melikuidasasi penjara Guantanamo, menarik mundur pasukan dari Irak dengan batas waktu yang telah definitif. Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Obama juga memperlihatkan keseriusan untuk berdialog dengan pemimpin-pemimpin negara Islam seperti Turki, Arab Saudi dan tentunya Indonesia. Obama pun sudah siap dengan proposal baru untuk mengurangi emisi gas carbon serta pengurangan senjata nuklir.
Sungguhpun demikian, banyak yang skeptis dengan pergantian kepemimpinan Amerika Serikat sekarang akan mampu merubah situasi yang sudah ada sekarang. Secara politis, ada kesangsian yang dalam apakah Obama bisa merubah sistem politik yang sudah terlanjur berakar dan melilit birokrasi Amerika Serikat. Kepentingan para pemodal kapitalis, lobby Yahudi, serta kelompok hawkish yang bergaris keras terlampau besar dan sulit untuk ditaklukan.
Ditambah lagi dengan adanya krisis ekonomi yang sedemikian akut telah menggerus kapabilitas AS dari selama ini berperan sebagai pendorong ekonomi Global. Menurunnya kemampuan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan menciptakan konstelasi ekonomi politik nan baru. Ada indikasi ke arah itu: Pertama, Munculnya negara-negara yang mulai menggunakan denominasi uang selain US dolar untuk bertransaksi. Cina memulai bertransaksi langsung dengan Jepang, Malaysia, Indonesia menggunakan mata uang Renminbi. Kedua, pertumbuhan ekonomi AS yang melambat telah menyebabkan AS tidak lagi menjadi pasar ekspor bagi banyak negara.
Untuk itu, maka kami menilai penting untuk mendiskusikan topik ini secara khusus guna mendapatkan pemahaman yang visioner dalam menghadapi tatanan global yang baru di masa yang akan datang.
Ada dua hal yang umum yang bisa muncul dalam pikiran kita mengenai AS:
- Pemerintah Indonesia harus pragmatik dalam merespon kemunduran Amerika Serikat sekarang.
- Faktor kedekatan psikologis Indonesia dengan Barrack Obama secara personal telah memberi harapan akan meningkatnya kualitas hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat di masa yang akan datang.